TEMPO.CO , Jakarta - Sebuah asteroid kecil menghantam Bumi dengan kecepatan 14,9 kilometer per detik, dan NASA mengaku tidak tahu asteroid itu akan datang. Batuan ruang angkasa yang dikenal sebagai 2019 MO itu hanya selebar tiga meter dan meledak ketika menghantam atmosfer Bumi pada 22 Juli di atas Karibia. "Ketika pertama kali terlihat, 2019 MO berjarak sekitar 310.000 mil (500.000 kilometer) dari Bumi, lebih jauh dari orbit Bulan kita. Ini kira-kira setara dengan menemukan sesuatu seukuran nyamuk dari jarak 310 mil (500 kilometer)," ujar NASA yang dikutip Express, 7 September 2019. Davide Farnocchia, seorang ilmuwan di Pusat Studi Objek Bumi Dekat (NEO) NASA, mengatakan asteroid ukuran itu jauh lebih kecil dari yang dilacak NASA. "Mereka sangat kecil, mereka tidak akan selamat melewati atmosfer kita untuk menyebabkan kerusakan pada permukaan Bumi," ujarnya. Masalahnya, kata NASA, badan antariksa itu tidak bisa menentukan ke mana batu ruang angkasa itu sedang menuju. "Objek itu hanya terlihat empat kali dalam waktu kurang dari setengah jam, yang tidak cukup informasi untuk menentukan dari mana benda itu berasal atau tepatnya ke mana benda itu menuju."
Sebelumnya, bulan lalu, Badan Antariksa Eropa (ESA) mengatakan badan itu luput dari sebuah NEO baru-baru ini. Pada 25 Juli, sebuah asteroid besar yang kira-kira seukuran lapangan sepak bola, mendekati Bumi, dan para ilmuwan tidak menyadari asteroid itu akan datang. Asteroid yang dimaksud dikenal sebagai ‘2019 OK’ dan ketika pertama kali ditemukan, asteroid tersebut tidak digolongkan sebagai asteroid dekat-Bumi. Namun, Badan Antariksa Eropa (ESA) mengkonfirmasi bahwa para ilmuwan sempat memperhatikan bahwa ia melakukan perjalanan di dekat Bumi "hanya beberapa hari" sebelum melesat pada jarak 40.000 mil (65.000 kilometer) atau seperlima dari jarak ke Bulan. "Asteroid selebar 100 m yang dijuluki '2019 OK' terdeteksi hanya beberapa hari sebelum ia melewati Bumi, meskipun catatan arsip dari survei langit menunjukkan bahwa asteroid itu sebelumnya telah diamati tetapi tidak diakui sebagai asteroid dekat-Bumi,” ujar ESA. "Kami tahu dan melacak ribuan asteroid di Tata Surya, jadi mengapa yang satu ini ditemukan begitu terlambat? Sayangnya, saat ini tidak ada satu pun alasan yang jelas, selain dari gerakannya yang lambat di langit sebelum mendekat,” tambah ESA. 2019 OK bergerak dalam orbit yang sangat elips, membawanya dari dalam orbit Venus hingga melampaui Mars. “Ini berarti waktu yang dihabiskan di dekat Bumi dan dapat dideteksi dengan kemampuan teleskop relatif singkat,” ujar ESA. ESA, NASA dan agen serta organisasi lain di seluruh dunia - profesional dan amatir - menemukan asteroid baru setiap hari. "Pekerjaan ini terus-menerus meningkatkan pemahaman kita tentang jumlah, distribusi, dan pergerakan asteroid yang mengorbit." EXPRESS | NASA
Liputan6.com, California - Sebuah asteroid kecil melesat mendekati Bumi dengan kecepatan 14,9 kilometer per jam, tetapi NASA mengaku tidak tahu batu angkasa luar itu akan sampai di Bumi.
Asteroid yang dikenal sebagai 2019 MO tersebut punya lebar tiga meter dan meledak ketika menghantam atmosfer Bumi pada 22 Juli di atas Laut Karibia.
Namun, cara 2019 MO mendekati Bumi secara mendadak, menegaskan kembali bahwa para astronom dan badan antariksa dunia perlu lebih hati-hati ketika 'mengintai' langit.
Mengetahui kejadian itu, NASA mengatakan: "Ketika pertama kali terlihat, 2019 MO berjarak sekitar 310.000 mil (500.000 kilometer) dari Bumi, lebih jauh dari orbit Bulan kita."
"Ini kira-kira sama dengan menemukan sesuatu seukuran nyamuk dari jarak 310 mil (500 kilometer)," imbuh NASA, seperti dikutip dari Express.co.uk , Jumat (6/9/2019).
Davide Farnocchia, seorang ilmuwan di Center for Near Earth Object milik NASA, menjelaskan bahwa ukuran asteroid 2019 MO jauh lebih kecil dari apa yang dilacak oleh timnya di NASA
"Mereka (asteroid) sangat kecil, sehingga tidak akan selamat ketika melewati atmosfer Bumi atau menyebabkan kerusakan di planet ini," ujar Farnocchia.
Saat berada dekat Bumi, NASA mengungkapkan bahwa mereka tidak bisa menentukan ke mana asteroid itu sedang menuju.
"Batu tersebut hanya terlihat empat kali dalam waktu kurang dari setengah jam. Kami tidak punya cukup informasi untuk menentukan dari mana benda itu berasal atau tepatnya ke mana benda itu menuju," NASA menyampaikan dalam sebuah rilis.
Jakarta - Bumi berpeluang dihantam asteroid berukuran sekitar 20-50 meter pada 9 September 2019. Pernyataan tersebut datang dari badan antariksa Eropa ESA pada awal 2019 dan sempat menimbulkan kekhawatiran. Namun dalam perkembangannya, Juli lalu, ESA menyebutkan hasil penelitian Double Asteroid Redirection Test (DART) yang dilakukannya bersama NASA justru berbalik 180 derajat situasinya. Disebutkan ESA, pihaknya kini tak bisa menemukan asteroid yang dinamai 2006 QV89 tersebut. Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional ( LAPAN ) Thomas Djamaluddin , adanya program DART bukan berarti ada asteroid yang akan mengancam Bumi dalam waktu dekat. "Berdasarkan data global, dalam 100 tahun ke depan belum ada indikasi besar akan menabrak Bumi. Program simulasi DART oleh NASA dan ESA adalah uji teknologi dan kesiapan sistem yang dibangun seandainya di masa depan ada asteroid yang mengancam Bumi," sebut Thomas. Jenis Asteroid yang Mengancam Ancaman asteroid memang nyata adanya. Dijelaskan Thomas, asteroid secara umum adalah batuan dari antariksa, terdiri dari dua macam. Ada yang merupakan planet-planet kecil, tapi mengorbit Bumi dan suatu saat bisa berpapasan dengan Bumi. Di samping itu ada juga batuan-batuan yang lebih kecil disebut meteoroid atau bakal meteor . Meteoroid ada yang berukuran kecil, dan jika memasuki atmosfer akan terbakar habis. Ada juga meteorid yang berukuran lebih besar, dan jika setelah melewati atmosfer masih bersisa, disebut meteorit. "Kalau ukurannya sudah (dalam satuan) meter, itu memang bagian dari asteroid. Asteroid ini dampaknya memang perlu diwaspadai," ujar profesor riset astronomi asal Purwokerto ini. Disebutkan Thomas, asteroid-asteroid yang mengancam ini memang sulit dideteksi. Dia menceritakan, pernah ada asteroid berukuran diameter 6 meter yang terdeteksi sistem pemantau langit dalam jarak 2 juta km. "Itu pun kebetulan, sistem pemantau punya perangkat lunak untuk menghitung orbitnya. Waktu itu bisa terdeteksi dan diprakirakan dalam waktu belasan jam lagi akan jatuh di Afrika. Itu sekitar awal 2006. Itu tidak bisa diantisipasi karena hitungannya jam. Selain itu, belum pernah ada lagi asteroid yang terdeteksi sebelum jatuh," paparnya. (Halaman selanjutnya: Efek Gelombang Kejut) (rns/krs)
Liputan6.com, California - Sebuah asteroid tidak seharusnya meninggalkan jejak berdebu di belakangnya, juga tidak mempunyai kemampuan mengubah warna dirinya sendiri.
Namun, Teleskop Angkasa Luar Hubble milik NASA menangkap fenomena unik dari sebuah batu ruang angkasa tersebut. Ketika sedang melayang di orbitnya, asteroid 6478 Gault kedapatan berganti warna dan menciptakan kawah di tubuhnya sendiri.
Gault ditemukan pada Desember lalu dan dicap sebagai asteroid aktif yang mampu meninggalkan dua jejak di belakangnya, seperti komet. Selain itu, asteroid ini juga berubah warna, dari merah ke biru --dalam spektrum inframerah.
Pengamatan tersebut dilakukan oleh para astronom di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah: para astronom menyaksikan adanya perubahan warna di asteroid .
Jadi, apa yang menyebabkan Gault berubah warna? Ilmuwan di MIT beranggapan, warna biru muncul dari lapisan atas asteroid yang telah memerah setelah bertahun-tahun karena terpapar sinar matahari.
Para peneliti awalnya berpikir, lapisan luar asteroid yang berdebu akan layu saat batu ini berputar. Salah satu tim periset dari MIT di Department of Earth, Atmosphere and Plan, Michael Marsset, mengatakan bahwa sekitar 10 persen asteroid berputar sangat cepat.
"Artinya, dengan periode rotasi dua hingga tiga jam, kemungkinan besar perputaran ini disebabkan oleh matahari," demikian katanya, seperti dikutip dari Business Insider , Jumat (6/9/2019).
Gault sekarang bersinar dalam semburat biru sebagai hasil dari lapisan asteroid yang kurang teriradiasi (penyinaran).
Asteroid Berkekuatan 50 Megaton Nuklir Dekati Bumi Wahyu Budi Santoso Sabtu, 07 September 2019 - 11:00 WIB Astroid Besar terdekteksi satelit NASA bergerak mendekati bumi. FOTO/ DailyStar NEW YORK - Asteroid seukuran kapal pesiar bergerak mendekati Bumi dengan kecepatan 30.500 mph mulai Jumat 6 September 2019. Badan antariksa Amerika Serikat NASA dan ESA memastikan Asteroid besar yang memiliki kekuatan lebih dari 50 megaton nuklir akan meluncur melewati bumi. NASA mengatakan asteroid raksasa itu - dijuluki 2019 GT3 - memiliki lebar 1.214 kaki, membuatnya jauh lebih tinggi dari Menara Eiffel di Paris. BACA JUGA: Semakin Berbahaya, NASA Siapkan Rencana Gila untuk Selamatkan Bumi Seperti dilansir dari DailyStar, Jumat (6/9/2019), mengingat ukuran asteroid yang besar, ia mampu menciptakan kawah yang lebarnya sekitar tiga mil jika bertabrakan dengan Bumi. Ini berarti asteroid cukup kuat untuk menghancurkan seluruh kota selama peristiwa tabrakan. "Penghancur kota" saat ini melaju dengan kecepatan 30.500 mph. NASA telah memperkirakan bahwa 2019 GT3 akan terbang melewati Bumi pada 6 September pukul 4.21 sore. Pusat ini mengklasifikasikan Asteroid yang Berpotensi Berbahaya dan mengancam karena mendekati Bumi. NASA menggolongkan tempat itu sebagai zona "objek dekat-Bumi", NASA sendiri berupaya menyelamatkan umat manusia dengan menyiapkan rencana gila untuk menyelamatkan bumi dengan menabrakkan pesawat ruang angkasa ke asteroid. BACA JUGA: 19 Hari Lagi, NASA dan Space X Peringatkan Keadaan Bumi Genting NASA sedang meningkatkan rencana untuk secara sengaja menabrak pesawat ruang angkasa ke asteroid ketika bergabung dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) minggu depan. Para ilmuwan dari kedua organisasi berencana untuk menguji apakah mungkin untuk membelokkan orbit asteroid yang berpotensi mematikan jutaan umat manusia. Para ahli akan bertemu di Italia untuk menyempurnakan rencana tersebut. Sejauh ini, itu melibatkan tabrakan NASA DART - atau Uji Dampak Asteroid Ganda - ke asteroid. NASA memperingatkan Asteroid yang tingginya dua kali ketinggian Empire State Building akan meluncur melewati Bumi dengan kecepatan 14.361 mph (23.100 km / jam) pada 14 September, kata para ahli. ( mif ) KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
Jakarta - Belakangan, topik mengenai asteroid yang mengancam Bumi sedang banyak dibicarakan karena beberapa batu angkasa itu memang kerap mendekat ke planet ini. Potensi kerusakan cukup tinggi, seperti yang kadang terjadi di masa silam. Jadi, apa yang terjadi seandainya asteroid besar menabrak Bumi? Bahwa suatu saat akan ada asteroid 'super' menabrak Bumi merupakan kepastian. "Batu besar pada akhirnya akan menghantam Bumi dan kita pada saat ini tidak memiliki pertahanan apapun," cetus pemilik SpaceX, Elon Musk, beberapa waktu silam. "Adalah kemungkinan 100% kita akan dihantam, tapi kita tidak 100% bisa memastikan kapan," cetus Danica Remy, presiden organisasasi B612 Foundation dengan misi melindungi Bumi dari asteroid. 66 juta tahun silam, kepunahan dinosaurus juga disebut-sebut sebagai akibat tubrukan asteroid. Namun demikian menurut Dr. Lewis Dartnell, profesor komunikasi sains dari University of Westminster, London, manusia tidak akan mengalami kepunahan walau ada tubrukan asteroid. Untuk dapat memusnahkan seluruh kehidupan di planet Bumi, asteroid harus berukuran ratusan atau bahkan ribuan kilometer. Meskipun NASA telah mendeteksi asteroid semacam itu, belum ada yang berpotensi mengancam. "Bumi tidak akan dihancurkan oleh sebuah asteroid. Pertanyaan berbeda mungkin adalah, bisakah seluruh kehidupan di Bumi menjadi punah karena dipicu tabrakan asteroid?" sergahnya. Ke Halaman Selanjutnya (fyk/afr)
Liputan6.com, Jakarta - Lembaga antariksa Amerika Serikat NASA kini tengah melacak sejumlah asteroid yang berpotensi membawa dampak bahaya pada Bumi.
Menurut lembaga Center for Near Earth Object Studies (CNEOS), sebagaimana dikutip dari IB Times, Rabu (4/9/2019), asteroid terbaru yang diprediksi mendekati Bumi berukuran gedung Empire State.
Meski bukan tertinggi di dunia, gedung ini memiliki tinggi 1.454 kaki atau lebih dari 318 meter.
CNEOS meyebut, asteroid ini diidentifikasi sebagai 2019 GT3. Berdasarkan pangkalan data asteroid NASA, 2019 GT3 merupakan salah satu dari sejumlah asteroid terbesar yang akan mendekati Bumi pada bulan ini.
CNEOS mengatakan, kini asteroid 2019 GT3 melaju dengan kecepatan 30.500 mil per jam. Asteroid ini diperkirakan punya diameter 1.241 kaki dan membuatnya lebih tinggi ketimbang menara Eiffel di Paris, Prancis.
Melihat dari besarnya 2019 GT3, asteroid ini bisa membuat kawah seluas tiga mil, jika bertabrakan dengan Bumi. Artinya, asteroid ini cukup kuat untuk menghancurkan sebuah kota selama tabrakan berlangsung.
loading... NEW YORK - Saat ini semua badan antariksa di dunia sedang mengamati pergerakan benda langit 'Asteroid' yang bergerak mendekato bumi, Asteroid besar yang memiliki kekuatan lebih dari 50 megaton nuklir akan meluncur melewati bumi. NASA mengatakan asteroid raksasa itu dijuluki 2019 GT3 memiliki lebar 1.214 kaki, membuatnya jauh lebih tinggi dari Menara Eiffel di Paris. BACA JUGA: Bumi dalam Keadaan Bahaya, NASA Minta Semua Lakukan Ini Asteroid ini sebelumnya dikenal sebagai “2004MN4,” berukuran sekitar 390 meter yang ditemukan ilmuwan pada Juni 2004 lalu. Baca Juga: Soal Asteroid yang Menghancurkan Bumi Tertulis dalam Alquran Seperti dilansir dari Space, Para ahli mengatakan bahwa objek NEO yang lebih besar dari 1 kilometer, akan menabrak Bumi setiap beberapa ribu tahun. NEO yang besarnya lebih dari 6 km, akan memusnahkan kehidupan Bumi setiap beberapa juta tahun. Sementara yang kita hadapi kali ini adalah sebuah asteroid besar yang tertunda. Dari hasil perhitungan orbit si objek, ilmuwan NASA menemukan bahwa tingkat bahaya dari ancaman asteroid ini paling tinggi, pada tahu 2029 asteroid “Apophis” akan melewati Bumi, namun, ia akan kembali lagi mengunjungi Bumi pada tahun 2036, dan tidak tertutup kemungkinan akan menerobos atmosfer dan bertabrakan dengan Bumi! BACA: Saat Ini, Asteroid Berkekuatan 50 Megaton Nuklir Mendekati Bumi “Apophis” sekarang masuk dalam peringkat empat dalam skala Torino. Peringkat 10 dalam skala Torino jadi patokan tertinggi atas risiko benda langit yang menghantam Bumi dan dianggap sebagai kiamat. Tingkat bahaya “Apophis” adalah yang tertinggi di antara asteroid lain yang pernah ditemukan selama ini. Apophis ditempatkan pada nomor 4 dari skala 10 Torino. Ini adalah asteroid terbesar yang mengancam Bumi sepanjang sejarah manusia dengan kemungkinan tabrakan 1:37. Apabila Apophis lewat pada 13 April 2029, gravitasi Bumi akan mengubah orbitnya, namun, pada 2036 ia akan kembali mengunjungi dan menghantam Bumi. Dari data perhitungan para ilmuwan menunjukkan, ketika “Apophis” mendekati Bumi, kecepatannya adalah sekitar 5,9 kilometer per detik. Jika menabrak bumi, akan menghasilkan energi yang setara dengan 110.000 ledakan bom ato di Hiroshima. Jika menghantam di samudera, akan mengakibatkan tsunami dahsyat yang mematikan, jauh lebih dahsyat dari tsunami 2004 di Samudera Hindia. NASA berupaya menyelamatkan umat manusia dengan menyiapkan rencana gila untuk menyelamatkan bumi dengan menabrakkan pesawat ruang angkasa ke asteroid NASA sedang meningkatkan rencana untuk secara sengaja menabrak pesawat ruang angkasa ke asteroid ketika bergabung dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) minggu depan. (wbs)
Liputan6.com, California - Sebuah asteroid yang diberi nama 2006 QV89, dilaporkan muncul kembali setelah dinyatakan hilang tanpa jejak selama 13 tahun dari orbit yang berada dekat Bumi.
Asteroid 2006 QV89 ditemukan pada Agustus 2006, ketika terdeteksi melewati Bumi dan terlihat selama 10 hari. Selama waktu itu, para astronom dengan cermat mengikuti lintasannya dan menentukan bahwa 2006 QV89 memiliki satu dari 7.000 peluang untuk bertabrakan dengan Bumi pada 9 September 2019.
Namun anehnya, batu ruang angkasa ini tiba-tiba lenyap dan keberadaannya tak pernah diketahui selama 13 tahun. Demikian seperti dikutip dari situs newatlas.com , Selasa (3/9/2019).
Ketika para peneliti panik karena tangal prediksi tabrakan kian dekat, mereka segera memindai langit pada awal tahun ini untuk mengetahui tanda-tanda kembalinya asteroid .
Masalahnya adalah area di mana asteroid 2006 QV89 berlokasi, sekarang ada di sekitar 30 derajat langit atau wilayah antariksa yang lebarnya 60 kali Bulan purnama.
Alih-alih mencoba 'mencari jarum di tumpukan jerami', para astronom malah memfokuskan upaya mereka pada beberapa titik yang mereka harapkan bisa menemukan asteroid , jika berada di jalur tabrakan dengan Bumi.
Setelah melakukan hal itu, European Space Agency (ESA) mengumumkan pada Juli 2019, mereka tidak menemukan jejak 2006 QV89 pada titik-titik yang ditelaah tadi, yang berarti batu tersebut tidak akan bersinggungan dengan Bumi pada September tahun ini.
Namun, para periset masih khawatir, sebab perhitungan yang sama menunjukkan tabrakan itu bisa terjadi pada 2020. Bahkan, ada dua lusin prediksi terkait potensial 'kecelakaan' tersebut selama 100 tahun ke depan. Delapan di antaranya terjadi pada dekade berikutnya.
Sebuah asteroid diprediksi menghantam Bumi pada 9 September 2019. Namun, temuan terbaru para astronom mengungkap, asteroid itu sama sekali tidak sedang menuju Bumi.
Para astronom mengaku tidak dapat menemukan tempat yang diperkirakan terjadinya tabrakan asteroid dengan Bumi. Mereka pun memberikan status asteroid itu menjadi 'Tak Terdeteksi'.
Asteroid itu, bernama 2006 QV89 yang ditemukan pada 29 Agustus 2006 oleh Catalina Sky Survey dekat Tucson, Arizona. Ukuran asteroid ini hanya berdiameter 40 meter, jauh lebih kecil dari asteroid yang membunuh dinosaurus pada 66 juta tahun silam yang memiliki ukuran diameter 10 kilometer.
European Southern Observatory (ESO) menyatakan, setelah penemuannya pada 2006, asteroidini sempat teramati selama 10 hari sebelum akhirnya menghilang dari pandangan para astronom.
Untuk mengonfirmasi apakah asteroid itu kini masih menuju tumbukan dengan Bumi, para astronom di Badan Antariksa Eropa (ESA) dan ESO mengambil pendekatan yang berbeda. Alih-alih mencoba mengamati asteroid itu sendiri, para astronom mengamati di mana ia seharusnya berada, padahal sebenarnya, ia sedang menuju Bumi.
Dengan menggunakan teleskop sangat besar milik ESO (VLT), mereka menangkap gambar yang dalam dari area di mana ia berada jika berada pada jalur tabrakan dengan Bumi, kata pejabat ESO dalam pernyataan itu.
Berdasarkan pengamatan daerah itu pada 4-5 Juli, para astronom tidak dapat menemukan asteroid tersebut dan menyimpulkan tidak akan berdampak pada Bumi.